Sejarah Desa Ngaglik
Desa Ngaglik adalah desa kolonisasi yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Tengah, dan terdiri dari beberapa daerah. Desa Ngaglik pada mulanya berasal dari kawasan hutan milik negara.
Pada tahun 1937, datang penduduk kolonisasi sejumlah 45 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 135 jiwa. Kemudian pada tahun 1939, datang lagi penduduk kolonisasi sejumlah 100 KK dengan jumlah 325 jiwa. Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun tersebut jumlah penduduk menjadi 145 KK dengan total 460 jiwa.
Penduduk mulai membuka dan menggarap tanah yang telah disediakan oleh pemerintah dengan luas sekitar 322 hektare.
Sejarah Kepemimpinan Kepala Desa Ngaglik
Pada tahun 1920, Kepala Desa Ngaglik dijabat oleh Djodikromo selama 8 tahun (satu periode). Setelah masa jabatannya berakhir, pada tahun 1928 diadakan pemilihan Kepala Desa, dan yang terpilih adalah Todrono, yang menjabat hingga tahun 1936 selama 8 tahun (satu periode).
Selanjutnya jabatan Kepala Desa dijabat oleh Atmowirjo hingga tahun 1944 selama 18 tahun. Setelah selesai masa jabatannya, pada tahun 1962 jabatan Kepala Desa dijabat oleh Subur hingga tahun 1977.
Pada tahun 1977, Panut Siswo Sudirjo (Karteker) menjabat sebagai Kepala Desa hingga tahun 1990. Selanjutnya pada tahun 1990, Kepala Desa dijabat oleh Ibu Supartini hingga tahun 1998.
Kemudian pada tahun 1998, jabatan Kepala Desa dijabat oleh Kasiyono hingga tahun 2006. Pada tahun 2006, Kepala Desa dijabat oleh Ibu Maryanti hingga tahun 2014. Selanjutnya, pada tahun 2015 hingga 2021, jabatan Kepala Desa dijabat oleh Sulasmono. Desa Ngaglik terus berkembang hingga saat ini.
Daftar Kepala Desa Ngaglik
-
Tahun 1920–1928 : Djodikromo
-
Tahun 1928–1936 : Todrono
-
Tahun 1936–1944 : Tirtodimedjo
- Tahun 1944–1962 : Atmowirjo
-
Tahun 1962–1977 : Subur
-
Tahun 1977–1990 : Panut Siswo Sudirjo
-
Tahun 1990–1998 : Supartini
-
Tahun 1998–2006 : Kasiyono
-
Tahun 2006–2014 : Maryanti
-
Tahun 2015–sekarang : Sulasmono
Tabel Peristiwa Baik dan Buruk Desa Ngaglik
| Tahun | Peristiwa |
| 1943 | Terjadi kelaparan dan penyakit koreng |
| 1947–1948 | Penjajahan Belanda ke II |
| 1950–1951 | Pemberontakan AOI |
| 2000 | Salah satu warga meninggal dunia karena tenggelam di Sungai Jali |
| 2003 | Terbentuknya Rombongan Rebana dan Janeng di RW 1 |
| 2003 | Terjadi serangan penyakit antraks yang menyebabkan banyak hewan mati |
| 2004 | Menerima bantuan pembelian tanah kas desa |
| 2004 | Bantuan hewan kambing ke-II, namun banyak yang mati karena penyakit |
| 2007 | Pemilihan Kepala Desa secara demokratis |
| 2007 | Kepala Desa terpilih: Ibu Maryanti |